Jumat, 03 Mei 2013

Musik Kontemporer

Musik Kontemporer

Pengertian Musik Kontemporer
Musik kontemporer adalah istilah dalam bahasa Indonesia untuk bidang kegiatan kreatif yang dalam konteks berbahasa Inggris paling sering disebut musik baru, musik kontemporer, atau, lebih tepatnya, musik seni kontemporer. Ini menjadi istilah yang paling digemari di tahun1990-an. Tetapi kesepakatan dalam penggunaan istilah ini membangkitkan pertanyaan tentang apa yang termasuk dan apa yang tidak termasuk dalam musik kontemporer. Ini menjadi sebuah inti dari perdebatan hangat dikalangan musisi dan pemikir yang biasanya mempunyai persepsi yang berbeda.
Keanekaragaman Musik kontemporer secara resmi diakui dan dilembagakan dan dalam hal ini ditetapkan sebagai sebuah gerakan yang lebih besar, yaitu Pekan Komponis, sebuah pertemuan tahunan untuk para komposer dari berbagai daerah di Indonesia. Pertemuan ini biasanya dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Dari pertemuan yang pertama di tahun 1979, komposer yang terlibat kebanyakan berasal dari yang berbasis tradisional. Bahkan, komposer berbasis tradisional adalah yang terbaik mewakili delapan iterasi awal, yang memberikan kontribusi lebih dari tiga kali lebih banyak dari karya-karya itu dibanding rekan mereka yang berorientasi Barat.

Asal Usul Musik Kontemporer
Tak dapat dipungkiri, saat ini musik telah menjadi salah satu konsumsi utama dari kebudayaan masyarakat di belahan bumi manapun. Musik rohani sendiri telah banyak mengembangkan warna-warna baru yang bervariasi dengan pembawaan yang lebih modern dan atraktif. Yang dulunya bernyanyi hanya diiringi sebuah organ, piano atau gitar, kini lengkap sebagai sebuah band, ada pemain drum, gitar, bass, piano, keyboard, perkusi serta alat musik lain yang dianggap perlu untuk menciptakan sebuah musik. Kita sedang berada di zaman musik baru, yang dinamakan Musik Kristen Kontemporer (Contemporary Christian music disingkat CCM).  Kata ‘Kontemporer” sendiri berasal dari kata ‘co’ (bersama) dan ‘tempo’ (waktu), sehingga dapat diartikan bahwa musik kontemporer adalah karya musik yang secara thematik merefleksikan situasi waktu yang sedang dilalui (zaman kini). Dasar musik yang dipakai adalah pop, rock dan praise & worship. Beberapa penyanyi atau grup yang mewakili aliran Musik Kristen kontemporer ini antara lain Avalon, Barlow Girl, Jeremy Camp, Casting Crowns, Steven Curtis Chapman, David Crowder Band, Amy Grant, Natalie Grand, Jars of Clay, MercyMe, Newsboys, Chris Tomlin, Hillsong, Michael W. Smith, Rebeca St. James, Thrid Day, TobyMac, dan masih banyak yang lain lagi. Memang tidak semua musik populer Kristen saat ini serta merta dianggap sebagai musik Kristen kontemporer misalnya banyak grup funk, hardcore, hip hop walaupun mengusung thema tentang iman Kristen. Artis seperti Bob Dylan,The Byrds, Lifehouse dan U2 pun tidak  tergolong sebagai artis CCM.

Munculnya Musik Kristen Kontemporer
Musik Kristen Kontemporer muncul pertama kali ketika terjadi kebangkitan Jesus Movement di akhir tahun 1960, awal tahun 1970. Satu dari sekian banyak album Jesus Music yang populer adalah Upon This Rock (1969) oleh Larry Norman yang dikeluarkan oleh Capitol Record. Berbeda dengan Musik Gospel Tradisional di belahan bumi selatan, aliran Jesus Music yang baru ini, warna musiknya bukan Rock & Roll. Pelopor dari kegerakan ini termasuk 2nd Chapter of Acts, Andrae Crouch and the Disciples, Love Song, Petra, dan Barry McGuire. Budaya Jesus Music ini menjadi luas, hingga menjadi sebuah indrustri musik yang bernilai miliaran dolar di tahun 1980-an. Tahun 1990 an banyak artis-artis CCM seperti Amy Grant, dc Talk, Michael W. Smith, Stryper dan Jars of Clay, telah mencapai kesuksesan dalam industri musik.
Sekarang ini penjualan musik Kristen kontemporer bahkan melebihi musik-musik klasik, jazz, latin, New Age dan soundtrack musik. Dalam http://christianmusic.about.com/od/ trivia/a/ccmhistory.htm tentang topik The Changing Face of Christian Music diketahui bahwa Larry Norman, pelopor rock alternative Kristen sejak tahun 1960 dikenal sebagai the "Father of Christian Rock" (Bapak Musik Rock Kristen), Dan Marsha Stevens, pemimpin dari Children of the Day dikenal sebagai the "Mother of Contemporary Christian Music" (Induk dari Musik Kristen Kontemporer) menurut versi The Encyclopedia of Contemporary Christian Music. Chuck Girard dikenal pula sebagai artis pria Musik Kristen Kontemporer, yang merintis di gereja California.

Kontroversi Musik Kontemporer
Sejak munculnya Musik Kristen Kontemporer tahun 1970an, musik kristen seolah terbagi menjadi dua: Hymne (tradisional) dan kontemporer. Hymne cenderung terkesan dengan suasana yang tenang (tidak bersemangat) dan khidmat (terkesan kolot). Hymne juga sangat didekatkan pada musik yang berat, notasinya cukup sulit dan kadang sulit dimengerti apalagi dinikmati, sehingga membentuk image bahwa hymne adalah lagu yang ‘jadul’ (kuno). Sedangkan musik kristen kontemporer cenderung terkesan dinamis, penuh semangat dan “ringan”. Musiknya mudah dimengerti dan dinikmati. Ini hanyalah beberapa poin kontroversi seputar merebaknya musik kristen kontemporer, sehingga pro dan kontra sudah menjadi bagian sejarah musik gereja saat ini.
John Styll, presiden dari Nashville-based CCM Communications dan ketua Gospel Music Association di Amerika misalnya, menyatakan, trend ke depannya, gereja-gereja akan lebih terbuka terhadap musik kontemporer. "Bisa dibilang jika gereja memakai lagu-lagu penyembahan kontemporer, maka gereja itu akan bertumbuh, dan jika melawannya maka gereja itu jika tidak mati, akan mengalami kemandekan," ujar John Styll. la menyebutkan total penjualan album rohani kontemporer di Amerika bertumbuh pesat dari USD 83 juta di tahun 80-an menjadi USD 700 juta di tahun 2004. Yang menarik, setengahnya justru terjual di outlet gereja Protestan (non Pentakosta/ Karismatik). Memang di sebagian gereja, sepertinya menuai konsekuensi kalau tidak mengikuti zaman. Yaitu, secara otomatis jumlah jemaat yang muda akan berkurang. Kenapa? Karena muda-mudi yang hidup saat ini (khususnya di perkotaan) bisa dipastikan lebih tertarik dengan kebaktian yang lebih variatif dan lebih tertarik dengan kemajuan zaman, apalagi saat ini dunia band semakin diminati kawula muda. Hal itu dapat dilihat dari kegiatan musikal yang berbau band dan ramai ditonton oleh orang-orang muda sedangkan pada musik klasik dan tradisional, kita lihat saja sendiri.
Sehingga kebanyakan alasan yang dilontarkan adalah satu-satunya cara untuk meraih orang-orang yang mencintai musik (khususnya kaum muda) adalah melalui bahasa mereka sendiri. Namun demikian setidaknya ada beberapa hal yang menjadi catatan negatif tentang musik Kristen kontemporer ini antara lain, pertama, isinya ada banyak kemasukan teologia kemakmuran, sehingga memanjakan jemaat; kedua, dalam liriknya kebanyakan memakai kata “aku”, terkesan egois . Ini disebabkan lagu kristen kontemporer banyak dibuat berdasarkan pengalaman pribadi sang pembuat lagu sifatnya subyektif. Namun ada beberapa lagu seperti “Besar Dan Ajaiblah KaryaMu” ciptaan Pdt. Ir. Niko Nyotoraharjo dan “Mulia Sembah Raja  Mulia (Majesty)” karya Pdt. Dr. Jack William Hayford diakui sebagai lagu kontemporer yang berkwalitas Hymne. Ketiga, Musik Kristen Kontemporer kini terlalu komersiil sehingga kebanyakan mengejar deadline untuk mengeluarkan album, sehingga terkesan mencari keuntungan uang.
Tidaklah salah untuk terus bertumbuh dan berkembang mengikuti perubahan teknologi, media, musik, gaya hidup dan sebagainya. Namun, kita jangan meninggalkan nilai-nilai konservatif (nilai-nilai yang baik) yang kita punyai. Banyak nilai ‘konservatif (yang baik)’ tentang sebuah keluarga (komitmen, keutuhan, dsb), nilai-nilai tentang hubungan cinta yang sehat, nilai-nilai persahabatan, yang seringkali menyelamatkan kita dari jurang kehancuran.

Perkembangan Musik Kontemporer di Indonesia
Di Indonesia, perkembangan musik kontemporer baru mulai dirasakan sejak diselenggarakannya acara Pekan Komponis Muda tahun 1979 di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Melalui acara itu komunikasi para seniman antar daerah dengan berbagai macam latar belakang budaya lebih terjalin. Forum diskusi serta dialog antar seniman dalam acara tersebut saling memberi kontribusi sehingga membuka paradigma kreatif musik menjadi lebih luas. Sampai hari ini para komponis yang pernah terlibat dalam acara itu menjadi sosok individual yang sangat memberi pengaruh kuat untuk para komponis musik kontemporer selanjutnya. Nama-nama seperti Rahayu Supanggah, Al Suwardi, Komang Astita, Harry Roesli, Nano Suratno, Sutanto, Ben Pasaribu, Trisutji Kamal, Tony Prabowo, Yusbar Jailani, Dody Satya Ekagustdiman, Nyoman Windha, Otto Sidharta dan masih banyak yang belum disebutkan, adalah para komponis kontemporer yang ciri-ciri karyanya sulit sekali dikategorikan secara konvensional. Karya-karya mereka selain memiliki keunikan tersendiri, juga cukup bervariasi sehingga dari waktu ke waktu konsep-konsep musik mereka bisa berubah-ubah tergantung pada semangat serta kapasitas masing-masing dalam mengembangkan kreatifitasnya. Pada puncaknya, karya-karya musik kontemporer tidak lagi menjelaskan ciri-ciri latar belakang tradisi budayanya walaupun sumber-sumber tradisi itu masih terasa lekat. Akan tetapi sikap serta pemikiran individual-lah yang paling penting, sebagai landasan dalam proses kreatifitas musik kontemporer. Sikap serta pemikiran itu tercermin seperti yang telah dikemukakan komponis kontemporer I wayan Sadra antara lain :
“Kini tak zamannya lagi membuat generalisasi bahwa aspirasi musikal masyarakat adalah satu, dengan kata lain ia bukan miliki kebudayaan yang disimpulkan secara umum, melainkan milik pribadi orang per orang” (Sadra, 2003).

Mengamati perkembangan musik kontemporer di daerah sunda tampaknya agak lamban. Selain apresiasi masyarakat Sunda belum begitu memadai, para komponisnya yang relatif sangat sedikit, juga dukungan pemerintah setempat atau sponsor-sponsor lain untuk penyelenggaraan konser-konser musik kontemporer sangat kurang. Di Yogyakarta misalnya, secara konsisten selama belasan tahun mereka berhasil menyelenggarakan acara Yogyakarta Gamelan Festival tingkat Internasional yang didalamnya banyak sekali karya-karya musik kontemporer dipentaskan. Kota Solo pada tahun 2007 dan 2008 telah menyelenggarakan acara SIEM (Solo International Ethnic Music). Banyak karya-karya musik kontemporer dipentaskan dalam acara itu dengan jumlah penonton kurang lebih 50.000 orang. Festival “World Music” dengan nama acara “Hitam Putih” di Riau, Festival Gong Kebyar di Bali dan lain sebagainya. Acara-acara tersebut secara rutin dilakukan bukan sekedar “ritual” atau memiliki tujuan memecahkan rekor Muri apalagi mencari keuntungan, karena pementasan musik kontemporer seperti yang pernah dikatakan Harry Roesli merupakan “seni yang merugi akan tetapi melaba dalam tata nilai”.
Sebenarnya banyak komponis kontemporer di daerah Sunda yang cukup potensial, akan tetapi sangat sedikit yang konsisten. Salah satu komponis pertama yang perlu disebut adalah Nano S. Meskipun aktifitasnya lebih cenderung sebagai pencipta lagu, akan tetapi beberapa karyanya seperti karya “Sangkuriang” atau “Warna” memberi nafas baru dalam pengembangan musik Sunda. Komponis lain seperti Suhendi Afrianto, Ismet Ruhimat sangat nyata upayanya dalam pengembangan instrumentasi pada gamelan Sunda. Dodong Kodir yang cukup konsisten dalam upaya mengembangkan aspek organologi dalam komposisinya, Ade Rudiana yang sukses dalam pengembangan dibidang komposisi musik perkusi, Lili Suparli yang memegang prinsip kuat dalam pengolahan idiom-idiom musik tradisi Sunda, serta tak kalah penting komponis-komponis seperti Dedy Satya Hadianda, Dody Satya Eka Gustdiman, Oya Yukarya, Dedy Hernawan, Ayo Sutarma yang karya-karyanya cukup variatif dan memiliki orsinalitas dilihat dari aspek kompositorisnya. (posisi penulis sebagai komponis juga memiliki ideologi yang kurang lebih sama dengan para komponis yang terakhir disebutkan).
Dari beberapa komponis Sunda seperti yang telah disebutkan di atas, secara kompositoris karakteristik karyanya dapat dipetakan menjadi tiga kategori. Pertama adalah karya musik yang bersifat “musik iringan”. Konsep komposisi dalam karya seperti ini berdasar pada penciptaan suatu melodi (bentuk lagu/intrumental), kemudian elemen-elemen lainnya berfungsi mengiringi melodi tersebut. Kedua adalah karya musik yang bersifat “illustratif”. Konsep komposisinya berusaha menggambarkan sesuatu dari naskah cerita, puisi dan lain-lain. Dengan demikian orientasi musiknya lebih tertuju pada penciptaan suasana-suasana yang berdasar pada interpretasi komponisnya. Ketiga adalah karya musik yang bersifat otonom. Karya musik seperti ini biasanya sangat sulit dipahami oleh orang awam. Selain bentuknya yang tidak baku, aspek gramatika musiknya pun sangat berbeda jika dibandingkan dengan karya-karya tradisi. Kadang-kadang karya-karya musik seperti ini sering menimbulkan hal yang kontroversial. Seperti yang “anti tradisi”, padahal secara sadar atau tidak, semua tatanan konsepnya bersumber dari tradisi. Kategori yang seperti ini lebih dekat atau lebih cocok dengan fenomena musik kontemporer Barat (Eropa-Amerika).
Di Bali, aktivitas berkesenian dengan ideologi ”kontemporer” sesungguhnya telah berlangsung sejak awal abad ke-20 dengan lahirnya seni kekebyaran di Bali Utara. Namun wacana tentang musik kontemporer mulai mengemuka serangkaian adanya Pekan Komponis Muda I yang diselenggarakan di Jakarta pada tahun 1979. Komponis muda yang mewakili Bali pada waktu itu adalah I Nyoman Astita dengan karyanya yang berjudul ”Gema Eka Dasa Rudra”. Pada tahun-tahun berikutnya Pekan Komponis Muda diikuti oleh komponis-komponis muda Bali lainnya seperti I Wayan Rai tahun 1982 dengan karyanya ”Trompong Beruk”, I Nyoman Windha tahun 1983 dengan karyanya berjudul ”Sangkep”, I Ketut Gede Asnawa tahun 1984 dengan karyanya berjudul ”Kosong”, Ni Ketut Suryatini dan I Wayan Suweca tahun 1987 dengan karyanya berjudul ”Irama Hidup”, I Nyoman Windha tahun 1988, dengan dua karyanya sekaligus yaitu ”Bali Age” dan ”Sumpah Palapa”.
Kehadiran karya musik kontemporer ini mulai terasa mengguncang persepsi masyarakat akademik di ASTI dan STSI (kini ISI) Denpasar dan juga di KOKAR Bali (kini SMK 3 Sukawati), karena musik ini cendrung mengubah cara pandang, cita rasa, dan kriteria estetik yang sebelumnya telah dikurung oleh sesuatu yang terpola, ada standarisasi, seragam, global, dan bersifat sentral. Konsep musik kontemporer menjadi sangat personal (individual), sehingga perkembangannyapun beragam. Paham inilah yang ditawarkan oleh musik kontemporer, sehingga dalam karya-karya yang lahir banyak terjadi vokabuler teknik garapan dan aturan tradisi yang telah mapan ke dalam wujud yang baru, terkesan aneh, nakal, bahkan urakan.
Pada tahun 1987 serangkain dengan tugas kelas mata kuliah Komposisi VI, mahasiswa jurusan karawitan ASTI Denpasar semester VIII untuk pertama kalinya menggarap sebuah musik kontemporer dengan judul ”Apang Sing Keto”. Karya yang berbentuk drama musik ini menggunakan instrumen pokok Gamelan Gong Gede dipadu olahan vokal dan penggunaan lagu ”Goak Maling Taluh” sebagai lagu pokok. Karya ini kemudian ditampilkan pada Pesta Kesenian Bali tahun 1987 dan mendapat sambutan meriah dari penonton. Pada tahun 1988 ketika Festival Seni Mahasiswa di Surakarta, saya sendiri selaku komponis mewakili STSI Denpasar menggarap karya musik kontemporer yang berjudul ”Belabar Agung” dengan menggunakan gamelan Gong Gede. Dua karya terakhir ini sempat mendapat kecaman dari beberapa sesepuh karawitan, karena dianggap memperkosa dan melecehkan gamelan Gong Gede yang telah memiliki kaidah-kaidah konvensional yang mapan.
Dua tahun kemudian, satu garapan musik kontemporer dengan media ungkap berbeda digarap kolaboratif oleh dua seniman I Wayan Dibia dan Keith Terry yaitu ”Body Tjak”. Karya ini merupakan seni pertunjukan multikultural hasil kerja sama atau kolaborasi internasional yang memadukan unsur-unsur seni dan budaya Barat (Amerika) dan Timur (Bali-Indonesia). ”Body Tjak” digarap dengan penggabungan unsur-unsur seni Kecak Bali dengan Body Music, sebuah jenis musik baru yang menggunakan tubuh manusia sebagai sumber bunyi. Garapan bernuansa seni budaya global ini, lahir dengan dua produksinya yaitu Body Tjak 1990 (BT90) dan Body Tjak 1999 (BT99) (Dibia, 2000:10). Kedua karya ini memang murni lahir dari keinginan seniman untuk mengekspresikan jiwanya yang telah tergugah oleh dinamisme seni kecak dan body music. Dengan berbekal pengalaman estetis masing-masing, dan diilhami oleh obsesi aktualitas kekinian, kedua seniman sepakat melakukan eksperimen dalam bentuk workshop-workshop sehingga lahirlah musik kontemporer Body Tjak.
Kehidupan dan perkembangan musik kontemporer yang diawali event-event gelar seni baik dalam dan luar negeri akhirnya juga masuk ke ranah akademik. Mahasiswa jurusan karawitan ISI Denpasar telah banyak menggarap musik kontemporer sebagai materi ujian akhirnya. Hingga tahun 2009 penggarapan musik kontemporer masih mendominasi pilihan materi ujian akhir mahasiswa jurusan karawitan, hal ini menyebabkan secara produktivitas penciptaan musik kontemporer sangat banyak, model dan jenisnyapun sangat beragam. Penggunaan instrumen tidak hanya terpaku pada alat-alat musik tradisional Bali, juga digunakan instrumen musik budaya lainnya, bahkan mahasiswa sudah mengeksplorasi bunyi dari benda-benda apa saja yang dianggap bisa mengeluarkan suara yang mendukung ide garapannya.
Musik kontemporer yang berjudul ”Gerausch” karya Sang Nyoman Putra Arsa Wijaya adalah salah satu contoh eksplorasi radikal dalam musik kontemporer Bali. Karya ini sempat memunculkan polemik kecil di kalangan akademik kampus. Berkembang wacana ”apakah karya ini tergolong musik atau tidak, termasuk karya karawitan atau bukan?. Namun dengan pemahaman yang cukup alot dari masyarakat akademik kampus, akhirnya karya kontroversial inipun telah mengantarkan sang komposer memperoleh gelar S1 Komposisi Karawitan.

Ciri – Ciri Musik Kontemporer
Musik kontemporer memiliki ciri-ciri umum, antara lain:
1.      Warna bunyi bisa sejenis atau bisa berbagai jenis.
2.      Notasi musik hanya dapat dimengerti oleh pemusik karena notasinya ditulis dengan simbol atau tanda.
3.      Memiliki improfisasi yang bervariasi mengikuti keinginan dari pemusik.
4.      Bunyi dapat berasal dari sumber yang beragam,bukan hanya dari instrumen musik.
5.      Jenis tangga nada yang dipakai bervariasi.
6.      Jenis birama tidak terpaku pada satu birama saja.
7.      Dinamik dan tempo bervariasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar